Senin, Januari 04, 2010

Indonesia Timur: Pantai yang indah, Buku dan Merdeka


Waktu kecil, aku berpikir Indonesia Timur adalah wilayah terbelakang yang tidak ada bagusnya sama sekali. Belakangan aku sadar, bahwa aku salah. Banyak laut dan pantai yang indah disana. Tentu, dengan tidak banyaknya pabrik disana, daerah itu akan jauh lebih baik daripada pinggiran rel kereta api di Bekasi yang dipenuhi pabrik. Bisa dibayangkan betapa bebas polusinya Indonesia Timur.

Indonesia Timur, dalam banyak buku yang kubaca, adalah daerah penuh konflik. Zaman Hindia Belanda, tentu bukan daerah stabil. Masalah pajak, bisa jadi sumber kerusuhan disana. Buku Pemberontak tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan Nusantara, mencatat banyak pemberontakan anti pajak di Indonesia Timur. Jelas orang Indonesia Timur bukan tipe orang yang mau ditindas. Mereka pernah berontak setidaknya, walau harus kalah oleh serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) yang membela kejayaan Sri Ratu Belanda di Indonesia.

Mengapa, ada bangsa asing di Maluku, buku-buku sejarah sudah jelas menjawabnya. Aroma rempah-rempah telah mangundang bangsa asing, dari Eropa seperti Belanda dan Portugis, mau datang ke Maluku. Anak kelas 6 SD di Indonesia tahu kalau zaman dahulu kala, Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah. Belanda kemudian sukses melakukan monopoli atas rempah-rempah itu dengan maskapai dagangnya Vereniging Oost-Indishe Compagnie (VOC). Setelah zaman tanam paksa, yang jauh sesudah VOC bangkrut, maka rempah-rempah meredup. Tanah Jawa dan sebagian Sumatra yang subur melahirkan banyak Onderneming (perkebunan) swasta yang sukses memenuhi kantong Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang bertahta di Batavia alias Jakarta. Begitu juga pertambangan di Sumatra dan Kalimantan, membuat pamor Indonesia Timur makin meredup.

Muncul kalimat, "Maluku masa lalu, Jawa masa kini, dan Sumatra masa depan" di kalangan orang petinggi dan pengusaha Belanda di Indonesia pada awal abad XX. Eksploitasi makin berkembang saja.

Zaman Revolusi, wilayah Sulawesi ke timur adalah wilayah Negara Indonesia Timur. Dimana banyak tokoh penting dari Sulawesi, Maluku dan Bali menjadi petinggi Negara--yang katanya Negara boneka Hubertus Van Mook itu. Negara Indonesia timur ini tidak banyak yang menginginkannya. Lalu Republik Indonesia yang Jawasentris mengambil alihnya pasca Pengembalian Kedaulatan Desember 1949.

Zaman Indonesia merdeka, Indonesia timur adalah daerah tertinggal. Dimana pemerintah pusat di Jawa terkesan hanya memperhatikan daerah Indonesia barat saja. Indonesia Timur terlupakan dan semakin jauh tertinggal. Memang banyak fasilitas pendidikan seperti sekolah dan Universitas namun kualitasnya jauh tertinggal. Sirkulasi buku-buku bacaan tentu akan sangat kalah jauh dengan di Jawa. Seorang kawan dari sana, jika berada di Yogyakarta--yang katanya gudang buku murah--tentu akan memborong banyak buku. Seorang Om dari kawan saya yang menjadi petinggi sebuah sekolah di Flores bilang, minat baca anak-anak disana tinggi, sayang buku-buku bacaan sangat kurang sekali. Sirkulasi buku di Indonesia timur harus ditingkatkan untuk mempercepat pembangunan pendidikan disana. Paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa buku barang mewah dan tidak perlu harus segera dihilangkan dengan sirkulasi buku yang baik.

Pemerataan adalah hal tersulit di Indonesia. Pembangunan seolah milik Indonesia bagian barat saja. Selalu ada kata orang-orang Indonesia Timur belum siap mental dan sebagainya. Bagaimana mau siap? Jika pendidikan masih jauh tertinggal dengan jawab. Setiap perasaan tidak puas mereka untuk melepaskan diri, akan selalu ditimpali dengan kata "Tidak Nasionalis." Orang pusat mungkin cuma mengerti kata tidak NAsionalis tapi tidak mengerti arti kata "berbagi." Tentu saja Indonesia tidak ingin terpecah lagi. Kasus Timor-Timur yang sudah jadi Timor Leste adalah pembelajaran. Orang-orang Indonesia umumnya tidak ingin Papua lepas dan Republik Maluku Selatan bangkit lagi. Gerakan Papua Merdeka dan Neo RMS tentu bisa tumbuh berkembang di Indonesia Timur jika pembangunan pendidikan disana jauh tertinggal. Pendidikan, perekonomian dan pemerataan yang lebih baik tentu akan membuat orang Indonesia Timur merasa mereka bagian dari Republik Indonesia.

Saya sering mendengar adanya percepatan pembangunan untuk Indonesia Timur. Sayangnya saya tidak tahu, apakah itu terjadi atau tidak. Jika terjadi itu baik sekali, namun jika tidak jangan salahkan sekelompok orang Indonesia Timur yang berteriak minta merdeka. Hanya ada dua pilihan sekarang untuk Indonesia Timur, "Percepatan pembangunan atau Merdeka!"




Selasa, November 03, 2009

Sedikit Tentang Intelejen Indonesia


Intelejen Indonesia telah terlibat dalam perbuatan kotor. Munir tewas dalam sebuah pembunuhan yang direncanakan oleh (oknum) BIN. Munir tewas, setelah banyak aksinya membuat gerah pembesar militer zaman orde baru yang rajin melakukan pelanggaran HAM. Akhirnya para perwira tinggi yang katanya gagah perwira itu kecut juga dengan kelantangan tuntutan peradilan bagi pelanggaran yang dilakukan Munir dan kawan-kawan seperjuannya. Hingga Munir pun jadi korban.

Intelejen Indonesia, yang didirikan Zulkifli Lubis, disetting untuk menjadi intelejen militer sejak awal. Sama seperti CIA--yang sebelumnya disebut OSS--yang ditugaskan dalam perang dunia II. Tapi CIA saat ini tidak berwajah militer. Berbeda dengan Indonesia. Intelejen selalu jadi milik militer. Karena militer, sejak zaman revolusi penuh intrik, karena rebutan pengaruh antar elit, maka badan intelejen dibawah tubuh militer juga akhirnya labil.
BIN (Badan Intelejen Negara), yang ada sekarang juga berwajah militer. Kepala BIN selalu orang militer, bekas Jenderal. Badan intelejen ini makin terpuruk dengan terbunuhnya Munir. Namun, pejabatnya tetap saja tidak tahu malu. Dengan gaya Indonesianya, mereka tetap pasang gengsi dan berlagak suci. Padahal, dalam pembunuhan Munir, BIN jelas terlibat.
Nama BIN juga ikut terjual dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Dimana para pembunuh di lapangan, selain diberi uang, juga disemangati oleh si pemberi order bahwa mereka melakukan tugas rahasia dari negara untuk membunuh Nasrudin. Bisa jadi akan ada kasus lain yang mengatas-namakan tugas negara. Apalagi, banyak orang tahu bahwa dinas intelejen tentu merekrut agen secara tertutup. Dan siapa saja bisa menjadi agen rahasia.
Kasus Munir sendiri telah memberikan sebuah opini pada publik bahwa BIN begitu mudahnya menjadi alat politik untuk menyingkirkan orang-orang kritis seperti Munir. BIN tentu memiliki banyak jaringan untuk beraksi, terutama BUMN seperti Garuda Indonesia dalam kasus Munir. Dan, si Policarpus--sang pilot senior Garuda, dianggap sebagai agen Intelejen oleh banyak orang. Artinya jelas bahwa BIN bisa merekrut siapa saja.
Tidak ada Negara yang bebas dari Intelejen. Jadi dalam wilayah sebuah negara, tidak ada area bebas intelejen. Itu tidak mungkin. Di area kampus, juga pergerakan mahasiswa, badan intelejen pasti bisa mencari agen tidur atau agen yang tidak sadar bahwa dirinya bagian dari spionase. Hal ini dimaksudkan untuk membayangi kegitan kampus, juga mahasiswa pergerakannya.Tidak hanya di kampus, di wilayah lain dalam sebuah negara juga ada dan agen-agen itu bisa menyaru sebagai apa saja. Idealnya, dalam dunia intelejen, harusnya bisa memantau sebanyak-banyaknya kegiatan rakyat di sebuah negara.
Karena berguna dalam intrik-intrik politik, maka baik data-data maupun personil intelejen menjadi vital bagi sebuah negara. Juga penting bagi sejumlah pejabat berkuasa untuk menjaga kepentingannya. Jangan heran jika BIN kemudian bisa diperalat pejabat penting untuk menghabisi nyawa orang lain.
Pentingnya intelejen juga telah diinsyafi banyak pejabat di Indonesia sejak negara Republik ini berdiri. Amir Syarifudin berusaha menguasai intelejen berada dibawah kendalinya. Bagian V yang dibawah naungan Amir itu tidak berumur panjang. Amir Syarifudin hanya ingin memanfaatkannya saja untuk tujuan politisnya. Demi ambisinya itu, Amir harus merusak kerja Lubis yang jatuh bangun membangun sebuah badan intelejen dengan personil berkualitas. Namun ketika Amir mengambil alih intelejen, maka kerja Lubis berantakan. Sementara itu Bagian V yang dipercayakan Amir kepada Abdul Rachaman--mantan kadet Angkatan Laut Belanda yang tidak sepakar Lubis--tidak bisa berbuat banyak, hingga Bagian V pun akhirnya bubar tanpa melakukan hal penting seperti badan intelejen yang sebelumnya dibangun Lubis.
Seorang politisi kuat, memang perlu memiliki jaringan intelejen untuk memperjuangkan kepentingannya. Jika perlu si politisi menjilat kepada Presiden untuk mengadakan sebuah Badan Intelejen. Meski badan intelejen itu juga kemudian mandul.
Intelejen Indonesia, telah melalui banyak tugas intelejen sejak tahun 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan dan setelahnya menjaga kestabilan negara. Namun Indonesia masih belum memiliki badan Intelejen mapan seperti CIA. Selain belum mapan, intelejen Indonesia belum bisa sepenuhnya lepas dari elet politik tertentu, seperti dalam kasus Munir. Idealnya badan Intelejen Indonesia hanya bisa diakses dan bertindak atas sepengetahuan Presiden Republik Indonesia. Jadi Presiden, bersama Menteri Pertahanan dan Kepala Intelejen, bisa bertanggung-jawab atas sepak terjang badan intelejen. Namun tetap saja sulit. Tidak ada yang bisa dipercaya dari sebuah badan Intelejen. Selalu ada hal yang mengejutkan dan diluar nalar kita.



Senin, November 02, 2009

Aku, Bugis dan Gadis Itu


Sejak kecil, aku selalu punya teman Bugis. Tidak mampu aku menghitung jumlahnya. Sangat banyak. HIngga hari ini, aku masih berhubungan dengan teman-teman Bugisku itu. Kota tempat aku lahir dan besar, Balikpapan, punya populasi orang Bugis yang banyak.
Gambaranku tentang orang Bugis adalah mereka keras, bisa berbaur dengan orang dari suku lain dan aku bisa pastikan agama mereka adalah Islam. Walau hanya Islam KTP sepertiku. Dalam pengalamanku mereka baik hati. Jika bertamu ke rumah mereka, aku tidak akan dibiarkan kelaparan.
Beberapa tahun ini, aku sangat jarang bertatap muka dengan mereka. Karena aku harus merantau dan menjalani hidupku sebagai apa yang aku mau.
Orang Bugis punya tanah leluhurnya di Sulawesi Selatan dari pinggir pantai sampai pegunungannya. Banyak orang menganggap, Bugis adalah bangsa Pelaut. Tapi, Christian Pelras, membantah itu dalam bukunya "Manusia Bugis"--buku paling kusuka tentang Bugis. Menurut Pelras, sebagian besar orang Bugis itu bertani dan yang terjun ke dunia maritim tidak sebanyak yang bertani. Nyatanya, di laut orang Bugis kesohor juga. Bahkan peradaban pelayarannya cukup maju dengan adanya Amanna Gappa.
Di bidang sastra, orang Bugis juga tidak kalah. ada I La Galigo. Salah karya sastra terhebat di dunia. Kajian tentang La Galigo sudah dimulai sejak awal abad XIX.
Tentang Bugis aku memang tidak banyak tahu. Tapi aku kerap bersentuhan dengan Bugis, terutama dalam kajian sejarah. Aku pernah menulis beberapa kisah pemberontakan yang dilakukan orang Bugis, juga tentang tokoh Bugis seperti Andi Azis dan We Tenriolle. Mereka, orang-orang Bugis memberontak dengan bagitu hebatnya kepada siapa saja yang merusak kehormatannya. Orang Bugis melakukan pemberontakan, lebih banyak dilakukan karena Sirri (harga diri). Arung Palaka juga melakukan pemberontakan karena ingin membebaskan Bone dari penjajahan dan penghinaan dari Gowa pada abad XVII.
Tulisanku tentang Andi Azis, tanpa disangka juga telah membuatku berkomunikasi kembali dengan orang Bugis, setelah sekian lama. Aku jadi mengenal istri Andi Azis, Tante Bida, begitu aku menyapanya. Juga keponakannya Andi Irvan Zulfikar, yang sangat peduli dengan kebudayaan Bugis. Meski Puang Irvan tidak tinggal di tanah Bugis, dia terus bersinggungan dengan tanah leluhurnya sejak lama. Bersama Puang Irvan aku kembali belajar tentang Bugis.
Orang Bugis memang menyebar dibanyak tempat di Indonesia. Di Nias pun ada perkampungan Bugis. Aku pun juga punya sahabat, yang biasa kusapa Dike, dia keturunan Bugis yang ayahnya hilang di laut. Ketika mencari ikan.
Seminggu yang lalu, aku juga bertemu orang Bugis, asal Bone. Dia bercerita tentang tanah kelahirnnya. Tiba-tiba, aku semakin menggebu-gebu untuk mengunjungi tanah leluhur orang Bugis itu. Kembali menjadi backpacker lagi. Tinggal menunggu waktu saja.
Aku memang bukan orang Bugis. Tapi, karena besar di Balikpapan dan kemudian menulis tentang serkelumit sejarah Bugis, maka aku pun bersentuhan dengan Bugis. Aku jadi ingat di Balikpapan dulu, tergila-gila seorang gadis Bugis juga. Mengingatnya membuat merah wajahku dan membayangkan sesosok Manusia Bugis dalam hidupku.


Kamis, September 10, 2009

Di Laut harus Jaya


Katanya nenek moyangku seorang pelaut. Itu kata lagu yang dinyanyikan Adikku waktu SD dulu. Rasanya, Indonesia kurang bangga sebagai Negara Maritim. Jalasveva Jaya Mahe (artinya: Dilaut kita jaya) seperti tidak arti. Cuma para pelaut rendahan saja yang menjadikan kalimat sakti itu sebagai kebanggaan.

Katanya, Muhamad Yamin, Majapahit dulu berhasil menguasai Nusantara. Jika benar, berarti Armada laut Majapahit pasti tangguh. Butuh armada laut tangguh untuk menjelajahi dan menguasai perairan nusantara yang kadang dipenuhi bajak laut.
Bisa disimpulkan kejayaan Majapahit, yang katanya menguasai Nusantara itu, berarti juga kejayaan pelaut Indonesia di masa lalu. Cukup bisa dibanggakan sebenarnya.

Zaman terus berlalu, nyatanya kejayaan Pelaut Indonesia tinggal romantisme belaka. Nyaris tidak bisa dibanggakan. Apakah salah para pelaut?rasanya tidak! Tidak ada yang salah dengan para pelaut. Mereka tidak bisa disalahkan ketika Laut Nusantara terus dijarah. Juga bukan salah nelayan di Nusantara jika banyak hasil laut dicuri, dan kadang rusak. Nyatanya banyak nelayan tidak diperhatikan.

Dalam sejarah, selain Hang Tuah (Panglima laut kerajaan Melayu), Mpu Nala (panglima armada laut Majaphit)ataupun John Lie (pahlawan Laut Indonesia zaman revolusi kemerdekaan RI), Indonesia harusnya bisa melahirkan pahlawan laut baru.
Dalam pelajaran SD, dijelaskan luas lautan Indonesia lebih luas daripada daratan. Jadi banyak perairan yang harus dijaga. Laut adalah anugrah terbesar bagi Indonesia, namun laut belum bisa dijaga dengan baik di Indonesia.

Siapa yang harus disalahkan? Ya siapa lagi kalau bukan pengarah pembangunan nasional, pemerintah. Kebijakan pemerintah kurang begitu peduli dalam sektor maritim. Mencintai Laut Indonesia, tinggal wacana kosong. Ketika Sail Buneken, yang diadakan Agustus lalu, selesai dilaksanakan, maka selesai pula perhatian orang Indonesia kepada laut.

LAUT INDONESIA LUAS
Orang-orang Indonesia pecinta laut Nusantara, tentu akan miris mendengar berita gangguan berupa pencurian di laut-laut Nusantara oleh kapal-kapal asing. Sementara itu, Angkatan Laut Indonesia tampak tidak berdaya mengatasi semua gangguan itu, karena laut Indonesia yang begitu luas. Banyak orang akan memaklumi ketidakberdayaan pihak Angkatan Laut itu setelah mengetahu jumlah personil Angkatan Laut yang jelas-jelas terbatas.

Tahun 2009, jumlah personil Angkatan Perang alias TNI berjumlah 432.129 personil. Dengan 328.517 personil diantaranya adalah Angkatan Darat. Sementara itu, jumlah personil Angkatan Laut hanya 74.963 personil. Jumlah personil Angkatan Udara, hanya 34.930 personil saja. Jumlah personil Angkatan Laut yang hanya 74.963 itu harus mengamankan lautan yang 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 Perairan Nusantara dan 2,7 km2 Perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).Dan 70 persen dari luas total Indonesia, adalah lautan.

PERBANYAK PERSONIL DI LAUT!
Mengutip tulisan Nasrul Alam, "Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR awal Juli (2002), mengakui lemahnya kemampuan tempur matra laut. Dari total 113 KRI (Kapal Republik Indonesia) yang dimiliki TNI AL saat ini-meliputi kapal tempur, kapal patroli, dan kapal pendukung-tak ada satu pun yang siap tempur sesuai fungsi azasinya. Umumnya kapal milik TNI AL itu telah berusia tua dan kondisinya semakin diperparah oleh embargo peralatan militer oleh Amerika Serikat (AS), yang sampai saat ini belum benar-benar dicabut. Keseluruhan armada kapal TNI AL, sebanyak 39 KRI berusia di atas 30 tahun, 42 KRI berusia antara 21-30 tahun, 24 KRI berusia antara 11-20 tahun, dan hanya delapan KRI yang berusia di bawah sepuluh tahun tahun." Tergambar betapa payahnya armada laut Indonesia. Kondisi ini nampaknya tidak banyak berubah.

Bisa dibayangkan kondisi Angkatan Laut Indonesia seperti Angkatan Laut Hindia Belanda zaman Hindia Belanda sebelum dikalahkan Armada Laut Jepang dari arah Pasifik. Sekali serbu saja, Angkatan Laut Indonesia bisa kalah telak. Hal ini bisa mempengaruhi semangat berjuang para personil Angkatan Laut, yang sedianya siap mati di lautan untuk menjaga lautan Indonesia. Betapa, kondisi peralatan tempur Angkatan Laut itu juga mengecewakan personil Angkatan laut juga.

Semua harus berubah dari sekarang! Angkatan Laut harus terus disupport dengan personil dan peralatan tempur seperti kapal-kapal perang yang jumlahnya mampu menjaga lautan Indonesia. Petinggi TNI hendaknya tidak terus-terusan berpikir ke darat saja. Personil Angkatan Darat yang terlalu banyak rasanya lebih membahayakan. Indonesia adalah Negara Maritim, dan tidak boleh menjadi Negara Angkatan Darat!. Jangan sampai Indonesia seperti negara Amerika latin, dimana Angkatan darat dominan. Dominasi Angkatan Darat, hanya akan menjebak Angkatan Darat semakin menjadi pelanggar HAM terbesar ditubuh militer Indonesia.

Tidak ada waktu untuk menunggu sebuah pembenahan Angkatan Laut Indonesia secara besar-besaran untuk orang-orang Indonesia terus menjaga Nusantara dan dengan bangga bisa berkata, "JALASVEVA JAYA MAHE!" Ini tuntutan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi! Pencurian kekayaan laut harus berhenti atau di laut Indonesia tidak pernah jaya.


Senin, September 07, 2009

Mahkamah Buku Untuk Kasdi


Aku bisa terus hidup karena buku. Aku tidak dibilang bodoh juga karena buku. Rupanya tidak hanya terjadi padaku. Orang lain juga rasakan hal yang sama.Ternyata buku milik peradaban manusia. Dan manusia beradab selalu hargai buku. Mantan Presiden juga menghormati buku, dengan membangun perpustakaan.

Di Indonesia, buku kadang menjadi sampah tak berharga. Bukan masalah jika yang perlakukan buku seperti sampah itu orang-orang awam. Ternyata, ada seorang yang harusnya menghargai buku malah membakar buku, seolah buku itu punya dosa padanya. Seminggu belakangan ini, ada kisah seorang Profesor membakar buku. Gila. Kawan-kawan yang sangat mencintai buku lalu mengganti gelar Prof (Profesor) nya menjadi Prov (Provokator).
Ampun deh. Kayaknya, dalam sejarah Indonesia baru dia yang bakar buku. Memalukan sekali? sangat tidak layak sekali.
Bukan rahasia umum, jika Kasdi alias Profesor Aminudin Kasdi yang guru besar Universitas Negeri Surabaya itu, anti komunis. Tidak ada yang salah dengan ideologinya! Dia cukup keras menulis sikap antinya terhadap komunis. Selama dia menulisnya itu tidak masalah, tapi bukan membakarnya.
Kasdi rupanya sangat kesal dengan sebuah buku tentang Sumarsono dan Revolusi Agustus-nya. Kasdi begitu membenci Sumarsono yang punya jasa terhadap Republik, walau Sumarsono tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus. Rasanya itu hak Sumarsono, toch dia juga punya jasa besar dalam pertempuran 10 November 1945.
Katanya, dalam sebuah wawancara, Kasdi tidak puas dengan Buku Sumarsono. Harusnya! Jika Kasdi, yang katanya sejarwan yang banyak nulis buku, tidak puas dengan Buku-nya Sumarsono, ya Kasdi harus nulis buku juga. Tulisan dilawan dengan tulisan. Bukan tulisan dilawan dengan pembakaran.
Bagaimanapun pembakaran buku adalah vandalisme! Jadi harus ada sangsi kepada pelaku. Jika tidak buku menjadi makin tidak dihargai.Jadi, penting sekali untuk diadakan Mahkamah Buku untuk Kasdi! Letkol Untung saja diadili di Mahkamah Militer Luar Bi(n)asa, mengapa Kasdi tidak diadili oleh pecinta Buku sejagat? Kasdi harus mendapat hukuman setimpal!
Mahkamah Buku harus lahir dan bertindak untuk mengadili Kasdi! Agar tidak lahir Kasdi-Kasdi lain di masa depan yang hanya merusak peradaban manusia,


(NB: Tulisan ini adalah reaksi atas vandalisme yang dilakukan Profesor Aminudin Kasdi yang membakar buku Sumarsono. Semoga tidak peristiwa memalukan ini di masa depan. Peristiwa ini bukti bahwa Indonesia sebagai bangsa belum bisa menghargai buku!)

Selasa, Agustus 25, 2009

Nasib Anak Tiri Kartini


Sejarah selalu berkait antara satu dengan yang lain. Juga antara tokoh satu dengan yang lain. Semua saling mempengaruhi, setidaknya mewarnai. Ada cerita menarik tentang anak Kartini yang masuk dunia pergerakan. Dia bergerak seperti Ibu Tirinya yang hebat, seperti dalam kacamata Pramoedya Ananta Toer

Abdulmadjid dilahirkan pada tanggal 9 Januari 1904 di Rembang. Abdulmadjid terlahir sebagai putra bupati Rembang, dan termasuk salah satu anak tiri Kartini, karena ayahnya yang bupati Rembang itu menikahi Kartini. Abdulmadjid, menurut pengakuan salah seorang tokoh nasional yang dikutip oleh Soe Hok Gie dalam Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, adalah sosok yang kaku, aristokratis dan dogmatis.
Pastinya Abdulmadjid tidak akan melihat Kartini yang moderat itu secara utuh, Kartini meninggal saat melahirkan Susalit ditahun 1904, yang juga tahun Abdulmadjid lahir. Hubungan akibat perkawinan ayahnya dengan Kartini itu tidak memberikan pengaruh pada intelektualitas Abdulmadjid. Ketika dalam masa pertumbuhan Abdulmadjid, tidak pernah berhubungan dengan Kartini yang sudah berada di alam baka.
Abdulmadjid setidaknya telah merasakan bangku empuk di sekolah Belanda hasil politik etis Belanda di pergantian abad XIX ke XX. Sebagai anak bupati Rembang, Abdulmadjid setidaknya bisa bersekolah dengan pengantar bahasa Belanda di Europe Lager School (ELS: setingkat SD) lalu ke Hogare Burger School (HBS: sekolah menengah)—sepertihalnya sosok Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dua sekolah sekolah macam tadi hanya terdapat di kota-kota besar Hindia kala itu, setidaknya Abdulmadjid pernah bersekolah di Semarang. Kota dimana Sastrokartono, kakak Kartini, sempat bersekolah sebelum akhirnyta belajar di Negeri Belanda.
Selepas sekolah menengah di Indonesia, Abdulmadjid mengikuti jejak paman tirinya, Sastrokaratono yang lebih dulu berangkat ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Disana Abdulmadjid berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa pergerakan macam Hatta. Abdulmadjid-pun terpengaruh dan ikut terlibat dalam arus pergerakan kaum kiri di Eropa itu. Tidak tanggung-tanggung, Abdulmadjid akhirnya terseret ke prodeo pemerintah Belanda yang represif terhadap gerakan anti kolonialisme.
Kehadiran orang-orang komunis dari Indonesia macam Semaun atau Darsono cukup memberi pengaruh pada Abdulmadjid untuk menempuh jalan komunis. Sama saja dengan Rustam Effendi, awalnya aktif di PI, lalu setelah Hatta kembali ke Indonesia tampil sebagai seorang komunis terkemuka di Eropa.
Abdulmadjid kemudian berhasil memepengaruhi kawannya yang lain dari Indoenesia, seperti Setiadjit. Pemuda ini kenal sebagai mahasiswa yang gemar mengunjungi dunia gemerlap malam di Belanda, dan oleh kawan-kawan Indonesianya dikenal sebagai anak malas dan tiap kali tidak punya uang sering meminjam uang dari Abdulmadjid dan kawan-kawan komunis lainnya. Semakin sering Setiadjit butuh uang, semakin sering dia berinteraksi dengan Abdulmadjid yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi Setiadjid dengan paham kirinya itu. Lama kelamaan, hobi Setiadjit meminjam uang itu semakin berkurang, ke menikmati dunia gemerlap malam-pun semaki berkurang. Pastinya mulailah Setiadjid terpengaruh oleh komunisme dari Abdulmadjid. Akhirnya Setiadjit mulai masuk dalam kelompoknya Abdulmadjid. Perkawanan Abdulmadjid dengan Setiadjit semakin akrab dalam gerakan kiri mahasiswa Indonesia itu. Mereka, seperti halnya Semaun-Darsono diawal kejayaan PKI di Semarang, tampil dwitunggal berpengaruh dalam PI pasca kembalinya Muhamad Hatta ke Indonesia.
Abdulmadjid kemudian sempat meninggalkan Belanda sebelum Jerman menduduki Negeri Belanda. Masa-masa menjadi aktifis Komunis itu, Abdulmadjid tidak pernah berhenti belajar. Setidaknya dia sudah menyandang gelar Mr (Meester in Rechten: Sarjana Hukum sekarang). Bersama beberapa kawannya Abdulmadjid pernah belajar di Lenins Institute di Moscow, Rusia sekitar tahun 1934-1935. Selama PD II mereka aktif dalam gerakan bawah tanah anti NAZI.
Abdulmadjid tampaknya berpikiran bahwa komunisme adalah jalan untuk mencapai tujuan perjuangan kaum pergerakan. Kesuksesan revolusi komunis di Rusia tahun 1917, memberi petunjuk bagi Abdulmadjid tentang perubahan atas tanah Hindia yang terjajah, dimana Hindia Belanda akan menjadi Indonesia dan tidak ada lagi kata Inlander lagi. Seperti halnya orang-orang komunis lain, Abdulmadjid yakin akan dukungan Komunis Internasional pada perjuangan bangsa Indonesia yang dipimpin kaum komunisnya untuk pembebasan negeri.
Kaum komunis Indonesia, termasuk Abdulmadjid, bagaimanapun juga adalah elemen penting pergerakan nasional. Sejak kemunculannya di Semarang, kaum komunis sudah berusaha menyentuh kepentingan kaum miskin tertindas dan ikut serta dalam pergerakan. Semaun, Tan Malaka, Darsono dan lainnya telah meberikan dirinyan untuk pergerakan. Begitu juga Abdulmadjid.
Apa yang dialami dan lakukan Abdulmadjid dan kawan-kawannya selama di Eropa bagaimanapun adalah suatu usaha untuk mencapai dua kata, seperti judul pledoi Muhamad Hatta, Indonesie Vrij (baca: Indonesia Merdeka). Tujuan yang sama dengan kaum pergerakan di Indonesia, walaupun berbeda visi mengenai Indonesia Merdeka bagaimanakah yang akan dituju itu.
Banyak tokoh nasional akan dicap sebagai sampaih bila pernah bersentuhan komunis. Tokoh yang terlibat dalam kudeta atau pemberontakan biasanya akan di beri lebel pengkhianat bangsa. Sejarah Indonesia tiga dekade terakhir masih menganggap kaum komunis di arena pergerakan nasional dianggap sebagai 'duri dalam daging' atau bahkan 'musuh dalam selimut' kaum pergerakan. Karenanya peranan kaum kiri itu nyaris tidak tertulis dalam sejarah bangsa. Dibangun opini bahwa orang-orang kiri adalah perusak perjuangan kaum pergerakan karena pemberontakan PKI 1926-1927. Hampir tidak pernah dibahas bahwa seorang orang kiri Indonesia di Negeri Belanda, Rustam Effendi pernah duduk dalam parlemen Belanda dan berhasil menarik simpati beberapa warga Belanda atas ketimpangan rasial pemerintah kolonial Belanda terhadap orang-orang Indonesia.
Stereotif atas orang-orang kiri itu sangat politis sekali, dalam sejarah, kaum penguasa berhak melakukan apa saja, apalagi terhadap kaum yang kalah—kaum yang pecundang yang layak dijadikan warganegara kelas dua bahkan layak juga diperbudak oleh kaum pemenang. Dalam sejarah tidak ada kata pengkhianat atau pahlawan. Bila-pun ada, hal itu lebih bersifat politis saja.
Ada yang patut diingat dari seorang Abdulmadjid dibalik sosoknya yang kaku dan nyaris dogmatis, seperti yang dikutip Soe Hok Gie, pengkomunisan yang dilakukannya terhadap PI adalah usahanya, bersama Setiadjid, memperoleh dukungan gerakan komunis Internasional pada dunia pergerakan nasional di Indosnesia. Terlihat Abdulmadjid berusaha belajar dari kecerobahan PKI 1926/1927 yang nekad memberontak itu.